EEPIS-Online, Energy Solution Competition (ESC) 2012 yang merupakan program tahunan ternyata tidak berakhir hanya dengan Olimpiade fisika SMA/SMK saja. Lomba inverter merupakan kesinambungan dari Olimpiade fisika yang terlaksana satu bulan yang lalu. Inverter competition ini dilaksanakan pada hari Minggu kemarin (8/12). Lomba ini terlaksana di Gedung TC lantai 3. Dimulai pukul 08.00 – 16.00 WIB.
Inverter Competition merupakan sebuah kompetisi untuk membuat alat yang berhubungan dengan konversi energi. Diharapkan kompetisi ini dapat menerapkan energi baru dan terbarukan. Seperti yang sedang marak saat ini solar cell dan kincir angin misalnya. Inverter sendiri merupakan sebuah alat pengonversi dari sumber DC ke AC. Sumber tegangan inverter berasal dari Accu (220 volt) dengan beban sebuah lampu. Peserta yang ikut dalam kompetisi ini mampu menghasilkan daya output inverter lebih kurang sebesar 50 watt.
"Jumlah pendaftar tahun ini ada enam belas tim. Namun yang ikut lomba hanya ada delapan tim dimana masing-masing tim terdiri dari tiga siswa." ujar Habib selaku Kepala Departemen Riset dan Teknologi yang menaungi kegiatan ini. Mahasiswa tingkat 3 D3 Elin B ini juga menjelaskan bahwa kegiatan ini juga memiliki misi ingin mencari alternatif teknologi terbarukan untuk masa depan. Mengingat bahan fosil yang kian hari kian menipis. Disamping itu juga sebagai persiapan pelajaran di masa depan untuk para genarasi muda, papar Habib. Adapun Seleksi penilaiannya sendiri meliputi uji fisik (keamanan dan kerapian), parameter out (frekrensi dan tegangan yang sesuai standart PLN), dan presentasi tim. Pendukung kegiatan ada dari PJB (Pembangkit Cirata Bandung).
Ketua pelaksana adalah Arif Firmansyah mahasiswa tingkat 3 D4 Elin A. Sedangkan juri dalam pelaksanaan Inverter 2012 ini diantaranya : Chandra Bayu S. (3 D3 Elin B), Habib Ali M. (3 D3 Elin B). Dibantu oleh tim pengukur lainnya seperti Rendhy (2 D4 Elin B), Dendi (2 D4 Elin A). Dalam lomba ini diambil tiga terbaik. Dari hasil perlombaan diperoleh Juara I dari SMK Teknik Pal Surabaya, Juara II SMKN 2 Surabaya dan sekaligus membawa pulang juara III SMKN 2 Surabaya.
"Tahun ini lebih terjaga orisinalitasnya, karena peserta hanya membawa komponen dan alat ukur lalu dirancang disini. Berbeda dengan tahun lalu yang perancangan dilaksanakan di sekolah masing-masing," tambah Habib. Dengan terlaksananya kegiatan ini harapannya kedepan ingin mengoptimalkan peran pelajar dalam energi baru terbarukan, inverter pun dapat dikenal lebih dekat dan umum di pelajar maupun masyarakat luas. Serta pelajar ataupun mahasiswa mampu lebih kontributif dalam menghadapi tantangan global. (nan/sat/aik)

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya