Ubah Botol Plastik Jadi Lebih Bernilai, PENS Hadirkan Mesin Pencacah untuk Bank Sampah Gebang Putih

by | Oct 23, 2026 | Berita, Headline Post, Kegiatan Kampus, Penelitian

Surabaya, pens.ac.id – Botol plastik bekas masih menyimpan nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Namun, keterbatasan peralatan membuat bank sampah di Kelurahan Gebang Putih, Surabaya, belum dapat mengoptimalkan nilai jual botol plastik yang terkumpul. Selama ini, botol plastik dipilah dan dicuci secara manual, kemudian dijual dalam kondisi utuh dengan harga relatif rendah. Untuk menjawab persoalan tersebut, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menghadirkan mesin pencacah botol plastik sebagai teknologi tepat guna melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Program bertajuk “Rancang Bangun Mesin Pencacah Botol Plastik sebagai Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Nilai Ekonomis Sampah di Kelurahan Gebang Putih” ini dilaksanakan bersama Bank Sampah Alam Raya dan Sibolang Cuan pada Jumat, 9 Oktober 2026. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu mitra mengolah botol plastik secara lebih efisien sekaligus membuka peluang peningkatan nilai jual sampah yang dikumpulkan masyarakat.

Berdasarkan hasil observasi tim, mitra mengumpulkan sekitar 200 kilogram botol plastik setiap bulan. Tanpa mesin pencacah, pengolahan masih dilakukan secara manual dan botol dijual dalam kondisi utuh. Padahal, botol plastik yang telah dicacah berpotensi memiliki harga jual lebih tinggi. Keterbatasan sarana pengolahan tersebut membuat peluang peningkatan nilai ekonomi sampah belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan ruang penyimpanan. Lokasi bank sampah berada di kawasan permukiman padat dengan akses gang yang terbatas. Ketika botol plastik belum sempat diolah, penumpukan sampah dapat mengurangi kerapian lingkungan dan mengganggu mobilitas warga. Karena itu, solusi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada proses pencacahan, tetapi juga pada penataan penyimpanan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Mesin yang dikembangkan tim PENS menggunakan bahan bakar bensin dengan daya 5,5 HP. Pemilihan sumber tenaga ini mempertimbangkan kapasitas listrik di lokasi mitra yang belum memadai untuk mengoperasikan mesin pencacah bertenaga listrik. Dengan menyesuaikan desain teknologi terhadap kondisi lapangan, mesin diharapkan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pengolahan sampah di bank sampah.

Mesin tersebut dilengkapi enam pisau bergerak dan dua pisau statis berbahan baja karbon. Dengan dimensi panjang 83 sentimeter, lebar 62 sentimeter, dan tinggi 128 sentimeter, mesin dirancang untuk mencacah botol plastik utuh berbahan PET dan HDPE. Proses pencacahan menghasilkan potongan plastik yang lebih ringkas dibandingkan botol utuh, sehingga dapat membantu penanganan dan penyimpanan material sebelum dijual atau diolah lebih lanjut.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang, tim juga menyediakan bak penampungan botol plastik dengan dimensi panjang 50 sentimeter, lebar 50 sentimeter, dan tinggi 170 sentimeter. Bak tersebut menggunakan rangka besi siku, dinding kawat ram, dan atap spandek. Desain vertikal dipilih agar pemanfaatan ruang lebih optimal tanpa terlalu mengganggu pergerakan warga di kawasan permukiman padat. Bak ini diperkirakan mampu menampung hingga sekitar 500 botol plastik sebagai tempat penyimpanan sementara sebelum proses pemilahan dan pencacahan.

Melalui kombinasi mesin pencacah dan bak penampungan, program ini diharapkan membantu pengelola bank sampah menangani botol plastik dengan lebih teratur. Tim menetapkan kenaikan harga jual dari sekitar Rp2.000 per kilogram untuk botol utuh menjadi sekitar Rp7.000 per kilogram setelah dicacah sebagai salah satu indikator keberhasilan yang ingin dicapai. Angka tersebut masih perlu diverifikasi melalui transaksi penjualan setelah mesin digunakan, sehingga dampak ekonomi program dapat diukur berdasarkan hasil nyata di lapangan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai Arrad Ghani Safitra bersama anggota tim Mohamad Nasyir Tamara, Lohdy Diana, Novian Fajar Satria, Didik Setyo Purnomo, Himmawan Sabda Maulana, dan Raden Sanggar Dewanto dari Program Studi Teknologi Rekayasa Perancangan Manufaktur PENS. Pengembangan teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan mitra, jumlah sampah yang terkumpul, keterbatasan kelistrikan, serta kondisi ruang penyimpanan di lingkungan warga.

Agar teknologi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, tim merencanakan pelatihan pengoperasian dan perawatan dasar mesin bagi pengelola bank sampah. Pelatihan tersebut mencakup prosedur penggunaan yang aman, perawatan sederhana, dan penanganan gangguan teknis ringan. Pendampingan serta pemantauan lanjutan juga diperlukan untuk menilai kemampuan pengelola mengoperasikan mesin secara mandiri, perubahan produktivitas pengolahan, dan perkembangan nilai jual hasil cacahan.

Inisiatif ini menjadi salah satu upaya PENS dalam menerapkan ilmu dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi setempat, sampah botol plastik berpeluang dikelola menjadi material yang lebih bernilai, sementara penataan penyimpanan dapat membantu menjaga keteraturan lingkungan. Keberhasilan upaya tersebut selanjutnya bergantung pada pemanfaatan mesin secara berkelanjutan dan evaluasi manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan oleh mitra. (Hum-dz)

Post Terbaru

wpChatIcon
wpChatIcon