Surabaya, pens.ac.id – Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang InnoWorks 2026 melalui inovasi Neuroflow, sistem pintar Pneumatic Leak & Health Analytics berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT), Kamis (08/10). Inovasi ini menawarkan solusi untuk mendeteksi indikasi kebocoran udara pada sistem pneumatik, menganalisis cacat produk, serta memantau kinerja mesin secara real-time guna mendukung efisiensi energi dan keandalan operasional industri manufaktur.
Neuroflow dikembangkan oleh tim mahasiswa PENS yang diketuai Brian Rahmat Jogi, bersama anggota Moh. Harudin Ali dan Ibrahim Fansori, di bawah bimbingan Dr. Eng. Agus Indra Gunawan, S.T., M.Sc. dan Hendhi Hermawan, S.ST., M.T. Menariknya, inovasi ini berawal dari upaya menghidupkan kembali sekaligus meningkatkan kemampuan modul praktikum otomasi industri SFA 2211 yang telah terbengkalai sejak 2006. Mesin yang merepresentasikan miniatur sistem produksi pabrik tersebut dilengkapi komponen pneumatik, konveyor, penjepit, dan silinder, kemudian dikembangkan menjadi sistem otomasi cerdas yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
Dalam proses pengembangannya, Neuroflow memanfaatkan integrasi Programmable Logic Controller (PLC) Siemens S7-1200 dengan Advantech ECU-1051 untuk mengirimkan data operasional ke platform Advantech WISE-IoT. Integrasi ini memungkinkan pemantauan kondisi mesin melalui dashboard interaktif yang menampilkan video langsung (live cam) dan indikator Overall Equipment Effectiveness (OEE) untuk mengukur efektivitas peralatan. Dengan dukungan enam sensor tekanan dan algoritma AI, sistem dapat mengidentifikasi indikasi awal kebocoran udara melalui pemantauan perubahan tekanan. Teknologi ini menjadi penting mengingat kebocoran pneumatik yang tidak terdeteksi berpotensi menyebabkan pemborosan energi kompresor serta meningkatkan risiko berhentinya produksi secara mendadak.
Keunggulan lainnya terletak pada penggunaan model visi komputer YOLOv11 dan OpenVINO melalui pendekatan edge computing untuk menganalisis cacat produk secara lokal, tanpa ketergantungan penuh pada koneksi internet maupun komputasi cloud. Neuroflow juga dilengkapi sistem peringatan otomatis melalui Telegram ketika terdeteksi kebocoran atau anomali, serta fitur predictive maintenance yang memantau siklus operasi komponen solenoid. Melalui fitur tersebut, teknisi dapat memperkirakan waktu perawatan atau penggantian komponen sebelum kerusakan terjadi. Kombinasi teknologi ini diharapkan mendukung upaya industri mewujudkan target Zero Air Leaks, Zero Downtime melalui pengurangan pemborosan energi, peningkatan kualitas produk, dan pencegahan gangguan operasional.

“Bagi kami, Neuroflow bukan sekadar proyek untuk mengikuti kompetisi, tetapi upaya menghadirkan solusi atas persoalan nyata di industri. Kami memulai dari modul praktikum SFA 2211 yang sudah lama tidak digunakan, kemudian mengembangkannya dengan integrasi AI dan IoT agar mampu melakukan pemantauan kondisi mesin, mendeteksi indikasi kebocoran pneumatik, hingga menganalisis cacat produk,” ujar Brian Rahmat Jogi, ketua tim pengembang Neuroflow. Ia berharap, capaian tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berinovasi dan mengembangkan teknologi yang memiliki manfaat nyata. “Kami berharap Neuroflow dapat terus dikembangkan dan diuji lebih lanjut agar potensinya semakin optimal untuk mendukung efisiensi industri. Kami juga ingin menunjukkan bahwa fasilitas yang sudah ada dapat dihidupkan kembali menjadi teknologi yang bermanfaat melalui kreativitas, kolaborasi, dan kemauan untuk terus belajar,” tambahnya.
Capaian tersebut juga menunjukkan potensi kolaborasi antara dunia pendidikan vokasi dan industri dalam mengembangkan solusi teknologi terapan. Dalam konteks pengembangan dan pemanfaatan teknologi, produk Advantech, termasuk ECU-1051 dan platform WISE-IoT, berperan sebagai bagian dari infrastruktur integrasi data dan pemantauan sistem Neuroflow. Sementara itu, keterlibatan PENS melalui tim mahasiswa dan dosen pembimbing memperlihatkan bagaimana fasilitas praktikum kampus dapat ditingkatkan menjadi sarana pengembangan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan industri. Prestasi ini sekaligus membuka peluang agar hasil pengembangan teknologi tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran, pengujian, dan pengembangan lanjutan.
Besar harapan inovasi ini dapat berlanjut melampaui kompetisi dan memberikan manfaat bagi pendidikan vokasi maupun industri. “Hal yang menarik dari Neuroflow adalah bagaimana mahasiswa tidak hanya mengembangkan teknologi baru, tetapi juga mampu mengoptimalkan fasilitas praktikum yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi dapat berangkat dari persoalan nyata di lingkungan sekitar, kemudian dikembangkan melalui penerapan teknologi yang tepat,” ujar Dr. Eng. Agus Indra Gunawan, S.T., M.Sc., dosen pembimbing tim Neuroflow.
InnoWorks 2026 merupakan ajang kompetisi inovasi yang diselenggarakan dalam ekosistem kegiatan Efortech, dengan dukungan teknologi industri, termasuk Advantech. Ajang ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan pengembang teknologi untuk menunjukkan solusi kreatif yang dapat menjawab tantangan nyata di sektor industri. Keberhasilan Neuroflow meraih Juara 1 menjadi bukti potensi mahasiswa PENS dalam mengembangkan teknologi otomasi, AI, dan IoT yang aplikatif. Lebih jauh, pembaruan modul SFA 2211 diharapkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai media pembelajaran interaktif di PENS, sehingga mahasiswa dapat mempraktikkan teknologi industri secara langsung sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi kebutuhan dunia kerja. (Hum)

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya 