Wakili Indonesia di World Diplomacy Forum (WDF) 2026, Mahasiswa PENS Terpilih sebagai Delegasi Fully Funded dan Emban Peran Technical Advisor Dunia

by | Aug 10, 2026 | Headline Post, Prestasi

Surabaya, pens.ac.id – Sebagai wujud kontribusi nyata mahasiswa dalam kancah internasional, Dafit Ody Endriantono, mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), sukses berpartisipasi dalam World Diplomacy Forum (WDF) 2026. Forum diplomasi imersif ini diselenggarakan oleh International School of Leadership and Diplomacy (ISLD) pada Jumat hingga Minggu (7–9/8), dan bertempat di Hilton Garden Inn Bali Nusa Dua, Jalan Pratama 57A, Tanjung Benoa, Bali, dengan mengusung tema “Launching Tomorrow’s Leaders“. Dalam forum tersebut, Dafit Ody mengemban peran strategis sebagai Technical Advisor dalam dewan AI Governance Body untuk membedah dan menganalisis aspek teknis sistem kecerdasan buatan serta terpilih sebagai penerima beasiswa penuh atau Fully Funded Delegate melalui ISLD Impact Scholarship

Forum yang berlangsung selama tiga hari tersebut berfokus pada empat pilar kompetensi utama, yaitu perundingan real-time, tanggap krisis darurat, formulasi strategi kebijakan, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan. Setiap delegasi ditempatkan langsung ke dalam simulasi skenario krisis global aktif yang menuntut analisis serta kemampuan persuasi, khususnya dalam perumusan tata kelola kecerdasan buatan. ISLD merupakan institusi pengembangan kepemimpinan dan diplomasi global yang berpusat di New York, Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Mina Ajmal selaku Founder & CEO, dengan rekam jejak lebih dari 10.000 pendaftar aktif dari sedikitnya 50 negara. Pada penyelenggaraan di Bali tersebut, delegasi yang hadir berasal dari berbagai negara lintas benua, di antaranya Amerika Serikat, Australia, Pakistan, Iran, Irak, Filipina, Vietnam, Kenya, Ghana, Maroko, dan Ekuador.

Dalam sesi simulasi krisis, Dafit Ody bergabung dalam komite lintas negara bersama delegasi dari Kenya dan Filipina. Tanggung jawabnya adalah membedah aspek teknis sistem kecerdasan buatan, integritas data, dan mitigasi risiko bias algoritma untuk mendasari perumusan Position Paper yang kemudian dipertahankan timnya dalam negosiasi multilateral di hadapan Facilitator Panel. Selain kerja tim, Dafid juga berpartisipasi secara individu dalam The Leadership Knowledge Quiz, Individual Presentation – Open Floor, dan Last Leader Standing Competition. Keikutsertaannya di forum ini diraih melalui status Fully Funded Delegate dari ISLD Impact Scholarship, yang memfasilitasi akses penuh konferensi, akomodasi, hingga sertifikat internasional resmi. “Pengalaman ini benar-benar high pressure, high focus, and new environment. Berada satu meja perundingan dengan delegasi lintas negara menuntut kecepatan berpikir, ketajaman analisis data, serta seni negosiasi rasional tanpa mengorbankan kepentingan strategis di bawah tekanan situasi darurat,” ungkap Dafit. 

Tantangan terbesar Dafit Ody justru muncul sebelum forum berlangsung, yakni saat melalui proses seleksi internasional yang mengharuskannya menyusun esai analisis kebijakan krisis global serta portofolio riset di bidang kecerdasan buatan, sekaligus mempersiapkan penguasaan instrumen diplomasi dan regulasi artificial intelligence (AI). Latar belakang riset rekayasa elektronika dan integrasi sensor pada kendaraan otonom yang ia miliki pun harus dikonversi menjadi rumusan kebijakan publik yang aplikatif. Dari pengalaman tersebut, Dafit Ody berharap mahasiswa PENS berani melangkah keluar dari zona nyaman kompetisi teknis laboratorium, terus mengasah keterampilan komunikasi, dan memperluas jejaring internasional, karena menurutnya, keahlian mahasiswa vokasi PENS memiliki daya saing nyata di tingkat dunia. (Ent-slv)

Post Terbaru

wpChatIcon
wpChatIcon