Surabaya, pens.ac.id – Ditengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) untuk terus menorehkan prestasi. Pada ajang Lomba Desain Aplikasi Inovatif dan Inspiratif untuk Penanganan Covid-19 (LAI2 – Covid-19) yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Tim Cocingbot-19 berhasil meraih Juara 2 sublomba robot. Tim ini terdiri dari lima mahasiswa, yakni Ainur Rofiq, A.Khoirul Rizal, Bianca Surya Nobelia, Musayadah Khusnul Khotimah, Risky Eka Wibowo, dan Syahrul Ismail serta Nofria Hanafi, S.ST., M.T. sebagai Dosen Pembimbing.

Cocingbot-19 merupakan robot yang dapat membantu tenaga medis dalam menangani pasien positif Covid-19. Robot ini dilengkapi dengan berbagai fitur seperti sensor pendeteksi suhu badan, tempat makanan dan obat untuk pasien, serta alat komunikasi yang dapat digunakan oleh dokter atau tenaga medis untuk berkomunikasi dengan pasien. Dengan adanya fitur-fitur pada robot tersebut, dapat menekan angka penularan antara tenaga medis dengan pasien positif Covid-19 karena tenaga medis mengurangi kontak langsung dengan pasien.

Tahapan seleksi yang ditempuh oleh Tim Cocingbot-19 hingga dapat meraih gelar juara disaat situasi pandemi Covid-19 bukanlah hal yang mudah. Berbagai persipan pun harus dipersiapkan secara matang meskipun terdapat keterbatasan berdiskusi tim secara langsung, dimulai dari tahap awal berupa pengumpulan paper dan dokumen teknis. Setelah pengumuman finalis, Tim Cocingbot-19 harus mempersiapkan animasi dinamis, animasi statis dan power point untuk digunakan pada saat presentasi karya yang dilaksanakan secara daring.

 “Persiapan lebih ke manajemen waktu, dimana kuliah masih berjalan pastinya harus bisa membagi waktu. Tidak lupa juga sharing dengan dosen pembimbing untuk meminta kritik dan sarannya,” ungkap Ainur Rofiq, selaku Ketua Tim Cocingbot-19. Diharapkan kedepannya robot tersebut dapat segera direalisasikan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya tenaga medis dan pasien positif Covid-19. Selain itu, mahasiswa sebagai agent of change dapat termotivasi untuk bergerak dan berprestasi walaupun dalam situasi pandemi seperti saat ini.(raf/msa)