Surabaya, pens.ac.id – Berada di  tengah pandemi Covid-19, ternyata bukan menjadi penghalang bagi Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) untuk terus menorehkan prestasinya. Pada Jumat (22/5), tiga mahasiswa Program Studi Teknik Informatika yakni Iervan Firdiansyah, Rafly Arief Kanza, dan Irma Dwi Mulyanti berhasil menyabet Juara 1 pada Kompetisi TechnoFair 7.0 kategori IT Business. Diselenggarakan oleh Universitas Gunadarma Depok, kompetisi ini dihelat melalui video conference.

Lewat karyanya yang bernama “Trashy”, rupanya berhasil membawa Tim Joss masuk pada tahap final dan menyisihkan 37 peserta dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Dibalik kemenangannya, ternyata terdapat sebuah proses yang tidak mudah. Selain pembuatan aplikasinya yang memakan waktu cukup lama, ternyata banyak juga persiapan lain yang terkendala oleh waktu. “Untuk pembuatan aplikasinya memakan waktu kurang lebih tiga bulan, sedangkan untuk persiapan presentasi kami hanya diberi waktu dua hari setelah pengumuman jadi semuanya serba mendadak,” ungkap Iervan Firdiansyah, selaku ketua tim joss.

Trashy merupakan aplikasi marketplace pengelolaan sampah dengan konsep circular economy berbasis android. Aplikasi ini dirancang sesuai dengan tema yang diangkat yakni “Mempersiapkan diri pada era teknologi baru yaitu society 5.0”. Pada aplikasi Trashy terdapat banyak sekali fitur mulai dari jual beli sampah plastik secara digital, jual beli produk daur ulang sampah, pemberdayaan mitra, pencarian agen pengepul sampah, dan uniknya lagi pada aplikasi ini juga dilengkapi oleh TrashyPay yang merupakan fitur transaksi pembayaran online dari aplikasi tersebut.

Aplikasi ini dibuat dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan membantu dalam pengelolaan sampah agar menjadi lebih efektif. “Mengingat keberadaan sampah yang kian hari makin meningkat, saya harap aplikasi ini dapat menjadi solusi yang tepat. Selain dapat menjadi jembatan dengan para konsumennya, pada aplikasi ini juga terdapat video tutorial cara mengubah sampah anorganik menjadi sebuah kerajinan,” imbuhnya. (kik/msa)