Surabaya, pens.ac.id – Guna mengenalkan perangkat lunak open source dan memperat hubungan antar komunitas, Open Source Community (OSC) IT PENS telah usai menggelar Dilo Roadshow Lokakarya LibreOffice 6.2. Turut dihadiri Kelompok Linux UPN Veteran Jawa Timur (KoLu) dan Kelompok Linux Arek Suroboyo (KLAS), kegiatan dihelat di Ruang HH-105 Gedung D3 PENS pada Sabtu (13/4). Sebanyak 30 peserta dari kalangan siswa maupun mahasiswa tampak mengikuti kegiatan tersebut. Dimulai pada pukul 09.00 WIB, peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas dalam bentuk seminar dan workshop.

Pada sesi seminar, para peserta mulanya dikenalkan dengan software  LibreOffice  versi terbaru, yakni LibreOffice 6.2. Selain itu, juga terdapat workshop pengaplikasian pembuatan makalah menggunakan software ini. Para peserta diajak untuk belajar bersama-sama dengan bimbingan secara langsung oleh tiga orang pemateri. Tiga pemateri tersebut berasal dari Kelompok Open Source Community (OSC) IT PENS, Kelompok Linux UPN Veteran jawa Timur (KoLu), dan Kelompok Linux Arek Suroboyo (KLAS).

Materi pertama yang disampaikan yakni pengenalan software LibreOffice. Selanjutnya adalah pembahasan LibreOffice 6.2  secara mendalam, seperti pembuatan dokumen dan pengoperasian fitur-fitur pada LibreOffice Writer yang digunakan untuk mengolah kata. Materi mengenai pembuatan tema dengan cara mengubah tampilan dari LibreOffice menjadi materi terakhir pada workshop ini.

Lokakarya sendiri bertujuan untuk mengenalkan LibreOffice kepada masyarakat secara luas. “Software LibreOffice memiliki banyak keunggulan seperti memberikan kemudahan untuk mengerjakan skripsi, sekaligus memiliki banyak jaringan untuk kontributor dan mudah didapatkan pula,” ungkap Muhammad Taufiqqurahman selaku penanggung jawab kegiatan. Selain itu, software ini juga memiliki banyak keunggulan lainnya dan bersifat open source yang berarti bisa diunduh secara gratis juga terbuka untuk mewadahi pengguna maupun kontributor dari seluruh Indonesia. Dengan digelarnya kegiatan ini, para peserta maupun masyarakat diharapkan lebih mengenal LibreOffice sebagai alternatif perangkat lunak perkantoran yang bebas dan tidak berbayar. “Dengan adanya kegiatan ini semoga mahasiswa bisa bersikap lebih terbuka lagi dan mengurangi penggunaan software  bajakan sehingga mahasiswa bisa menjadi pelopor pengurangan penggunaan software bajakan,” imbuhnya. (msa/res)