EEPIS-Online. Pembekalan
materi saja tentu tidak cukup, dibutuhkan praktik langsung agar para penerima
dapat berlatih untuk merealisasikan ilmu yang telah mereka dapatkan. Materi
wirausaha pada
Life Management Training
(LMT) Bidikmisi 2014 yang didakan di Trawas-Mojokerto lalu (6-7/12) menjadi
salah satu agenda penting dari rangkaian kegiatan lainnya.

Di hari pertama peserta dibekali
berbagai macam materi, salah satunya materi ‘Wirausaha dan Impian’ yang
dibawakan oleh Dwi Kurnia Basuki S.Si, M.Kom. Sebanyak 140 mahasiswa didiberi
motivasi dan pengarahan untuk membangun mimpi mereka masing-masing. Sesi
tersebut berlanjut dengan implementasinya untuk menyusun rancangan usaha dalam
bentuk poster yang memuat kriteria produk yang dibuat oleh mahasiswa yang
terbagi atas 20 kelompok.

Tantangan tersebut di sambut baik
oleh peserta, 20 ide kreatif-pun terkumpul hanya dalam waktu 1 jam. Setelah itu
tiap kelompok pun mempresentasikan produk mereka ke hadapan juri yang terdiri
dari Drs. Miftahul Huda, MT., Adnan Rachmat Anom Besari S.ST, M.Sc. dan Dwi
Kurnia Basuki S.Si, M.Kom. Namun karena keterbatasan waktu hanya 7 kelompok
yang sempat mempresentasikan poster
produk mereka.

“Rasanya kalau melihat ini nggak hanya 1 yang saya pilih, sepertinya
akan banyak. Kalau dari ide, terus terang saya belum pernah mendengar, belum
pernah ada ide-ide seperti ini di PMW sebelumnya. Dari 7 ide, 5 diantaranya
merupakan ide unik yang belum pernah saya dengar. Jadi bayangkan saja, kalau
dari 7 ada 5 ide unik, berati bisa terlihat, dari 20 ide bisa ada 15 ide unik,”
ungkap Dwi Kurnia Basuki S.Si, M.Kom..

Melalui kegiatan ini, mahasiswa
bidikmisi diajarkan untuk membalas budi pada rakyat dan negara yang telah
mendanai mereka saat ini. Diharapkan para peserta dapat meneruskan rancangan
usahanya dimasa mendatang hingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat
yang membutuhkan.

 â€œSesi wirausaha ini sangat bagus banget karna melatih jiwa wirausaha kita
sebagai mahasiswa biar nggak hanya
memikirkan diri sendiri kedepannya, tapi juga memikirkan cara untuk menciptakan
lapangan usaha bagi orang lain,” ungkap Moh. Isyadul Fikri, salah satu peserta
yang menciptakan rancangan usaha serabi dengan bahan dasar tepung ubi.

Sesi ini ditutup dengan game ‘Built A Tower’ dimana tiap kelompok
harus berlomba membangun menara yang tahan goncangan dan tahan angin. Uniknya
dalam permainan ini peserta yang dibekali uang sebesar enam ratus ribu, harus
memulai pembangunan dari nol. Mulai dari membeli barang dan peralatan dipasar
hingga membangun enara tanpa alat bantu apapun selain yang dijual dipasar.
Tentunya uang dan pasar tersebut juga merupakan uang dan pasar mainan.

“Seru sih, bisa belajar me-manage
uang dan waktu, juga bisa meningkatkan rasa optimis untuk membangun sebuah
tujuan,” ungkap Yessy Anggraini setelah berhasil menyelesaikan pembangunan
menaranya. (zya/and)

wpChatIcon
EnglishIndonesian