Source : Jawapos, Edisi Minggu 25 Mei 2008

Jatuh Cinta pada Tikus di Labirin
"Endra"Sukses PENS-ITS menjadi kampiun tujuh kali berturut-turut dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) tak lepas dari tangan dingin Dr Ir Endra Pitowarno. Dia termasuk satu dari segelintir pioner pemasyarakatan teknologi robot di kampus. Endra punya obsesi menjadikan robot dekat dengan masyarakat sehari-hari.


Apa yang membuat Anda tertarik menggeluti robotika?

Sejak kecil saya sudah suka "merusak" mainan dan memodifikasi
barang-barang elektronik. Waktu SD saya membuat helikopter dari kardus
dengan motor DC. Kecintaan saya pada bidang elektronika semakin
terpupuk ketika saya duduk di SMP dan SMA. Atas dasar cinta elektronika
Itulah saya kemudian memutuskan untuk kuliah di Jurusan Teknik Elektro
ITS.

Tapi, waktu itu saya belum tertarik mempelajari robot. Ketertarikan
saya mulai tumbuh ketika saya bertugas di Jepang. Ketika itu,
1989-1990, saya mengikuti joint research atau training di Kumamoto
National College of Technology.

Apa yang Anda pelajari di sana?

Dari PENS-ITS berangkat lima dosen, termasuk saya. Tapi hanya saya yang
tertarik mempelajari robotika. Saya tertarik memperdalam bidang
robotika karena Jepang adalah negara yang paling hebat mengembangkan
robotika.

Robot yang saya pelajari pertama kali berupa micromouse atau robot
tikus. Robot tikus itu harus mampu mencari jalan keluar dari labirin.
Nah, robot tikus inilah yang saat bawa pulang ke Indonesia untuk
oleh-oleh mahasiswa saya.

Jadi, dari robot tikus itulah sejarah robotika PENS-ITS berkembang?

Bisa dibilang begitu. Robot itu saya kenalkan kepada mahasiswa. Dan
ternyata antusiasme mereka mempelajari robot sangat tinggi. Kebetulan
waktu itu PENS-ITS sudah menerima mahasiswa angkatan kedua, sehingga
sudah ada yang bersiap membuat tugas akhir (TA). Dari 60 mahasiswa
angkatan pertama, 12 orang membuat TA bertemakan robotika. Salah
satunya membuat robot route runner atau yang sekarang dikenal dengan
line tracer. Saat proses pembuatan TA itulah banyak hal yang menambah
antusias mahasiswa untuk mempelajari teknologi robotik.

Misalnya?

Sebelum diujikan, TA itu diseminarkan dahulu. Setiap tiga bulan selalu
ada seminar. Seminarnya juga tidak main-main lagi, karena waktu itu
masih ada peneliti dari Japan International Cooperation Agency (JICA),
yang banyak memfasilitasi PENS. Kami lalu diundang untuk mengikuti NHK
(Japan Broadcasting Corporation) Robocon di Jepang pada 1991. Itu
adalah kompetisi robot untuk politeknik se-Jepang. Kami satu-satunya
politeknik di luar Jepang yang tampil.

Ada hasilnya?

Yang menggembirakan, kami langsung menang melawan Kyoto di babak
pertama. Meski akhirnya kalah di babak berikutnya, kami tetap membawa
pulang trofi untuk kategori tim dengan ide terbaik. Tahun berikutnya,
1992, kami diundang lagi dan langsung masuk semifinal dan meraih juara
tiga. Tapi, prestasi itu cukup membuat Jepang kaget. Publik Indonesia
juga tersentak. Ketika kami tiba di tanah air, media massa memberitakan
besar-besaran kemenangan kami. Mahasiswa pun tambah semangat.

Setelah itu, kontesnya diboyong ke Indonesia?

Bukan begitu. Pada 1993 kami sudah bersiap berangkat lagi ke Jepang.
Tapi ternyata kami tidak diundang. Mahasiswa sempat kecewa, karena
mereka sudah bekerja keras. Kami tak mau menyerah. Akhirnya muncul ide
untuk mengadakan kontes robot yang kemudian bertitel Indonesian Robot
Contest (IRC) dan lalu menjadi Kontes Robot Indonesia (KRI). Saya
menjadi ketua panitia waktu itu.

Apa obsesi Anda dan PENS-ITS saat itu?

Kami ingin menjadikan teknologi sebagai bagian kehidupan sehari-hari.
Tentu saja tidak gampang dan butuh proses panjang. Tapi mau tak mau
pada saatnya masyarakat akan berhadapan dengan teknologi aplikasi
seperti itu. Memang kontes itu kelihatannya seperti main-main saja.
Tapi sebetulnya sangat besar maknanya bagi kita.

Seperti apa?

KRI memang proyek jangka panjang. Membudayakan teknologi itu memerlukan
waktu yang lama. Baru 10-15 tahun kemudian bisa dirasakan manfaatnya.
Almuni kontes robot ini banyak yang menerapkan ilmunya dalam dunia
nyata. Bahkan sebagian juga mengajar di berbagai politeknik. Kontes itu
turut menyumbang SDM yang andal di bidangnya. Sebetulnya, itulah
sumbangan terbesar dari KRI. Jadi, bukan untuk main-main, melainkan
membangun budaya teknologi.

Tapi, banyak robot yang akhirnya mangkrak. Padahal dana yang dipakai tidak sedikit?

Banyak yang berkomentar seperti itu kepada saya. Perlu diketahui, yang
kami rawat bukan robotnya. Tapi hati dan semangat para mahasiswa yang
menyukai robotika. Kalau hanya robot secara fisik, itu physically saja.
Kontes pertama hanya diikuti delapan peserta. Tapi, lihat sekarang,
seluruh mahasiswa Indonesia bersaing untuk dapat menciptakan robot
tercanggih. Mereka tidak lagi memikirkan robotnya bisa jalan atau
tidak, tapi sudah ke strategi untuk mengalahkan lawan.

Apakah ada niat untuk membuat karya aplikatif?

Kami pernah membuat mesin koran untuk Jawa Pos pada 1996. Lalu mesin
untuk memesan minuman, mesin membuat kopi dan sebagainya. Tapi kami
sempat vakum karena krisis ekonomi. Itulah susahnya, masyarakat selalu
berpikir bahwa robot itu mesti memiliki tangan dan kaki seperti
manusia. Padahal tidak selalu begitu. Robot adalah perupaan atau sistem
mekanik yang dapat berpikir dan bergerak seperti manusia. Tapi tidak
harus total seperti manusia. Bisa tangannya saja atau kakinya saja, dan
sebagainya.

Sampai sekarang masih memproduksi robot aplikatif?

Kami terus aktif. Dua minggu lalu PENS menandatangani draft MoU dengan
Kemenristek, PT Pindad, LIPI, dan Mabes Polri untuk mengelola satu
riset nasional untuk membangun general purpose mobile platform. Kami
diminta membuat kendaraan robotik. Salah satu yang sedang kami kerjakan
adalah robot antiteror. Robot itu bisa mengambil bom, menjaga
perbatasan, dan sebagainya. Robot itu untuk menyuplai kebutuhan tim
Gegana. Nah, ini bukti bahwa Kemenristek mempercayai institusi PENS.
Kita bisa membuat teknologi yang sama dengan biaya yang murah.

Bagaimana perkembangan bidang robotika di tanah air?

Sudah banyak kemajuan. SDM kita tidak kalah dengan negara lain. Namun,
ada titik-titik pengembangan yang masih kurang. Pemahaman masyarakat
mengenai robot juga belum tinggi. Padahal, Indonesia itu negara yang
paling terancam oleh robot. Lihat saja Singapura. Mereka bisa dengan
leluasa mengembangkan wilayahnya. Robot underwater-nya sudah berjalan
sejak 1980. Kita selalu dirundung masalah, lemah, dan tidak mampu
mempertahankan diri. Padahal, sebetulnya kita mampu untuk memproduksi
senjata atau robot yang bagus.

Kiat kita untuk membuat masyarakat melek robot?

Kita harus lebih sering mengadakan even-even teknologi sebagai sarana
kampanye. Mungkin kita menganggap momentumnya sudah hilang sejak
kegagalan pabrik pesawat kita itu (PT Dirgantara Indonesia, Red).
Padahal tidak, kita bisa memulai lagi. Kita harus membuat lebih banyak
kegiatan untuk mengajak generasi muda untuk mencintai teknologi. Semua
bisa dilakukan bersama-sama dan dimulai dari lingkungan sekolah.(anita
rachman/ari)