EEPIS-Online (10/10), Memasuki hari kedua Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2014 peserta wajib melakukan presentasi dan running test. Sebelum melakukan presentasi dan running test wahana/robot harus melakukan pengukuran terlebih dahulu. Divisi rotary wing memiliki start zone dan drop zone dimana robot harus dijaga seimbang dan stabil.

Dimensi untuk rotary wing yang diperbolehkan yakni diameter 100 cm, massa keseluruhan maksimal 4500 gram (tidak termasuk payload/beban muatan). Salah satu aturan wajib dalam divisi ini yakni wahana berupa quadcopter yaitu menggunakan empat buah propeller/baling-baling dengan dua bilah. Robot diperbolehkan take off dan landing secara autonomous (sistem kendali otomatik).

Robot rotary wing asal PENS, EMIRO sempat jatuh saat melakukan running test. Jatuhnya quadcopter ini disebabkan karena angin yang tiba-tiba diatas 6 m/s sehingga kehilangan kendali saat menjelang landing. "Sebenarnya karena kurang menyesuaikan lapangan, harusnya tadi setelah naik wahana di tahan dulu secara stabil baru dijalankan lagi," ungkap Bapak Akhmad Hendriawan S.T, M.T. pasca running test EMIRO.

Selama melakukan trial di Surabaya robot aman, karena desain angin yang sesuai adalah pada kisaran 3,8 m/s. Sesaat setelah mengalami trouble landing pada running test tim dengan sigap langsung melakukan troubleshooting. Tim mengganti acrylic di dropping part dan memastikan pemasangan sterofoam pada top robot sebagai pengaman bagian atas. Pesangan ini sekaligus melindungi robot jika nanti jatuh uling dan menimpa bagian atas.

Beberapa kelebihan pada wahana asal PENS ini diantaranya adanya sistem image processing sebagai pendukung untuk pencarian target sehingga tidak hanya menggunakan koordinat. Selain itu adalah desain land feet yang elastis sehingga robot lebih aman saat proses landing. Miftahur Rujik yang bertindak selaku driver menyatakan bahwa semua tim disini adalah saingan yang cukup berat, kalau dilihat disisi pengalaman kita masih kurang karena masih tahun pertama bergelut di bidang robot terbang. Pembuatan wahana selama satu bulan memang dinilai cukup singkat, namun hal ini tidak membuat semangat tim EMIRO surut untuk bertanding secara maksimal. (nan/ifl/dio)