Surabaya, pens.ac.id – Kecanggihan teknologi kian lama perkembangannya semakin pesat. Manajemen yang baik pun juga menjadi pendukung akan hal tersebut. Rabu (20/3), Program Studi D4 Teknik Informatika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) usai menggelar Kuliah Tamu bertajuk Manajemen Modern dengan Scrum. Bertempat di Ruang Miniteater Gedung Pascasarjana, kegiatan yang dikhususkan bagi mahasiswa Teknik Informatika ini turut menghadirkan Proffesional Scrum Trainer dari Scrum.org yakni Joshua Partogi.

Scrum sendiri merupakan sebuah frame work untuk mengembangkan dan mengelola produk kompleks yang digunakan dalam dunia software development. Dimulai sejak pukul 14.00 WIB, kegiatan dibuka oleh Ketua Pelaksana yakni Umi Sa’adah, S.Kom., M.Kom. Umi menuturkan bahwa saat ini mahasiswa dihimbau mengetahui serta memahami bagaimana menggunakan Scrum yang saat ini sedang banyak digunakan khususnya di dunia informatika. “Selama dua tahun terakhir ini, tim dosen selalu menyelenggarakan pembekalan Scrum seperti ini kepada mahasiswa. Agar nantinya mahasiswa lebih terbuka wawasannya dan lebih matang dalam menerapkan konsep Scrum nantinya,” ungkap Umi.

Dalam momen tersebut, Joshua yang juga merupakan penerbit buku “Manajemen Modern dengan Scrum” berbagi pengalaman sebelum dan sesudah menggunakan Scrum. Berdasarkan pengalaman yang Joshua alami, cara kerja Scrum yang melihat dari sisi manusiawi sangat disarankan bagi seorang software developer. Dengan cara penyampaian yang komunikatif dan menekankan angangement kepada peserta membuat suasana Kuliah Tamu lebih hidup. Para peserta yang sebelumnya telah dibagi menjadi beberapa kelompok nampak antusias saat dilangsungkannya sesi tanya jawab.

Diharapkan dengan adanya Kuliah Tamu Manajemen Modern dengan Scrum ini dapat lebih membuka pengetahuan mahasiswa khususnya mengenai cara kerja  menggunakan Scrum. “Saya berharap mahasiswa IT PENS yang lulus nantinya, bisa membawa pengaruh baik ke industri, walaupun perusahaan yang ditempatinya nanti belum menerapkan Scrum. Mereka bisa memulai dengan memberikan pengaruh kecil di sekitar. Dengan adanya hal tersebut juga dapat mengubah stigma masyarakat bahwa seorang software developer itu membosankan atau bahkan membawa aspek negative bagi yang menggelutinya,” tutur Joshua. (dya)

wpChatIcon
EnglishIndonesian